Senin, 22 Maret 2010

ANTARA CINTA DAN NAFSU

| | |
~ ~ ~
_o_,_\ _| | . _o_\ _| | (|_|_| _o_,_,_,____,
( .. / (_) / ( .

In the Name of Allaah, The Most Gracious, The Most Kind

MEMPERBINCANGKAN TENTANG CINTA DAN PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

ANTARA CINTA DAN NAFSU

Cinta dan nafsu bagaikan dua saudara kembar yang sulit dipisahkan. Cinta kadang membuat seseorang menjadi buta dan mendewakan hawa nafsunya daripada akal sehatnya. Cinta dapat membuat seseorang mabuk kepayang dan mengorbankan kehormatan dan norma dirinya sendiri.Cinta membuat seorang raja bagaikan seorang budak Dan cinta seringkali diatasnamakan oleh orang-orang yang mengejar kenikmatan untuk memuaskan hawa nafsunya belaka.

Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta antara dua anak manusia tetapi islam mengajarkan untuk menempatkan perasaan cinta itu dalam proporsinya yang wajar.Islam mengajarkan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya haruslah lebih utama daripada kecintaan kepada lawan jenisnya.Dengan memiliki kecintaan ini niscaya dua orang yang sedang saling mencinta akan tetap menjaga cintanya tetap suci jauh dari perilaku yang dilarang Allah dan Rasul-Nya yang akan mengotori cinta itu sendiri . Kecintaan seperti inilah yang akan mengobati rasa sakit akibat cinta itu dan manumbuhkan perasaan kasih sayang yang tulus

Islam sangatlah melarang untuk menempatkan rasa cinta terhadap sesuatu diatas kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya karena kecintaan seperti itu hanyalah akan membawa malapetaka dan bukanlah kebaikan

Dan diantara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah , mereka menyintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.Adapun orang orang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (Al Baqarah ayat 165)

"Tidaklah seseorang diantara kalian beriman sehingga aku menjadi orang yang lebih dia cintai daripada anak dan bapaknya serta semua manusia (HR Ahmad)

Kecintaan yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya memberikan ketenangan dalam hidupnya terhadap persoalan-persoalan cinta serta mengendalikan gejolak nafsunya kepada hal yang diridhai Allah.Kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya mampu menahan
godaan-godaan yang lebih diakibatkan nafsu birahi yang mampu menjerumuskannya dan kekasihnya ke jalan yang dimurkai Allah.Karena cinta yang tulus dan murni itu datangnya hanyalah dari Allah sebagai sebuah fitrah yang harus disyukuri bukan didurhakai.

BERSAUDARA DAN SALING MENASEHATI

Bersaudara dan Saling Menasihati

Api peperangan di lembah Badr telah padam. Perang ini berakhir dengan kemenangan Dienul Haq (agama yang benar) atas Dienul Kufr. Sejumlah 14 mujahid muslimin syahid; 6 orang dari pihak Muhajirin, sisanya 8 orang dari pihak Anshar. Di lain pihak sebanyak 70 orang tentara musyrik Makkah ditawan, dan 70 orang lainnya tewas. Kebanyakan dari mereka adalah para pemuka dan pembesar Makkah.
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab hidup dalam sistem 'ashabiyyah yang fanatik terhadap qabilah (suku) dan keturunan. Hubungan mereka kepada suku dan keturunan adalah hubungan hidup dan mati. "Bela saudaramu salah atau benar", itulah semboyan mereka yang diterjemahkan secara harfiah. Hidup dan mati mereka dipersembahkan untuk menjaga kehormatan dan keberlangsungan suku dan keturunan. (Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahiqul Makhtum, hal. 45)
Dan di perang Badr ini (Ramadhan 2 H), perang pertama dalam sejarah perjalanan Islam, justru mereka orang-orang Muhajirin Makkah khususnya berperang melawan saudara, keturunan dan suku, bahkan ada yang berperang melawan ayah, paman atau anaknya sendiri, yang berbeda aqidah. Umar bin Al-Khaththab membunuh pamannya, 'Ash bin Hisyam yang kafir. Abu Bakr berperang melawan anaknya, Abdurrahman yang ketika itu belum memeluk Islam.
Lain lagi kisah antara Mush'ab bin Umair dan saudara kandungnya, Abu Aziz bin Umair. "Perkuat ikatannya, ibunya adalah orang yang kaya raya. Siapa tahu ia akan menebus anaknya dengan tawaran yang mahal", pinta Mush'ab kepada orang Anshar yang menawan Abu Aziz sebagai tawanan perang Badr.
"Beginikah caramu memperlakukan saudara kandungmu?' tanya Abu Aziz heran. "Kamu bukan saudaraku. Tapi orang yang menahanmu itulah saudaraku," jawab Mush'ab (wafat 3 H) dengan tegas.
Islam telah merajut tali persaudaraan antara sesama pemeluknya tanpa mengenal batas hubungan darah, warna kulit, status sosial dan batas negara. Dan hal tersebut telah dipraktikkan secara sempurna oleh generasi pertama Islam, para sahabat Nabi `.

Ukhuwah dan Solidaritas
Rasa ukhuwah (persaudaraan) yang dilahirkan Islam buat pemeluknya telah melahirkan sifat solidaritas sosial yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Muslim dan dalam peradaban manusia. Al-Qur'an mengabadikan realitas tersebut.
"Dan mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan (Orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)" (Al-Hasyr: 9).
Seorang lelaki mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasalam , tulis Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat di atas tadi di dalam tafsirnya. "Ya Rasulullah, saya sedang tertimpa kesusahan" kata orang tadi mengadu-kan nasibnya. Si lelaki tadi disuruh mendatangi rumah isteri-isteri Nabi shallallahu alaihi wasalam . Namun, ia tidak menemukan bantuan karena mereka juga tidak punya.
"Adakah seseorang yang mau menjamunya malam ini? Semoga Allah merahmatinya" seru Rasulullah shallallahu alaihi wasalam kepada para sahabatnya.
"Saya ya Rasulullah" jawab Abu Thalhah, orang Anshar menyanggupi.
"Ini tamu Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , sediakan semua jamuan untuknya dan jangan disisakan" pinta Abu Thalhah kepada istrinya setelah ia tiba di rumah. "Tapi kita tidak punya makanan apapun kecuali makanan untuk anak-anak", jawab istrinya masygul.
"Jika anak-anak minta makan ajaklah tidur, kemudian kamu ke sinilah lalu matikan lampu, dan biarlah kita sekeluarga lapar malam ini". Di kala pagi Abu Thalhah bertemu Rasulullah, lalu beliau bersabda: "Allah merasa kagum (atau tertawa) kepada dia dan isterinya", kata Rasulullah ` memuji. (HR. Al-Bukhari)
Islam telah mengikrarkan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara" (Al-Hujurat: 10). Ayat ini telah meletakkan dasar keimanan sebagai tali pengikat rasa ukhuwah. Perbedaan warna kulit, suku, bangsa dan status sosial telah disatukan Islam dalam kerangka Iman. Islam memprioritaskan seseorang berdasarkan status taqwanya.
Allah berfirman: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu" (Al-Hujuraat: 11).
Rasa ukhuwah yang tumbuh pada setiap jiwa orang mukmin merupakan nikmat Allah yang perlu diingat (disyukuri). Ukhuwah di dalam Islam mempunyai arti tersendiri. Penyebutan ukhuwah -sebagai suatu nikmat- didahulukan dari penyebutan diselamat-kannya orang-orang yang beriman dari neraka (lihat QS. Ali Imran: 103).
Rasa ukhuwah akan tumbuh subur jika sifat ananiyah (mementingkan diri sendiri), dan cinta dunia dikubur dalam-dalam. Untuk menghilangkan sifat ananiyah, Rasulullah shallallahu alaihi wasalam menjadikan rasa cinta kepada sesama Muslim sebagai bentuk kesempurnaan Iman.
"Tidak (sempurna) iman seseorang hingga ia menginginkan bagi saudaranya apa yang ia inginkan untuk dirinya".(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dan nilai-nilai keduniaan yang akan menjadi penghambat tumbuhnya rasa ukhuwah akan sirna jika manusia melihat dan merenungi asal-usulnya, dan menyadari bahwa kemuliaan yang hakiki di sisi Allah dinilai dari sisi ketaqwaannya.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam bersabda: "Wahai manusia, Tuhan kalian satu, dan bapak kalian satu, kalian berasal dari Adam, dan Adam dari tanah. Sesungguh-nya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Tidak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa lain, tidak pula bagi bangsa lain atas bangsa Arab, tidak ada keutamaan bagi kulit merah atas kulit putih dan bagi kulit putih atas kulit merah, melainkan dengan takwanya." (HR. Ahmad).
Rasa ukhuwah berwujud dalam bentuk solidaritas sosial. Solidaritas sosial di kalangan umat muslimin ada dua macam; dalam arti moral dan material. Solidaritas dalam arti material terdiri dari pemenuhan kebutuhan-kebutuhan masyarakat, perasaan ikut mengalami kesusahan yang diderita oleh anggota masyarakat, kesediaan untuk membantu memperjuangkan kepentingan bersama dalam rangka meningkatkan standar hidup masyarakat, dan pelayanan terhadap seluruh anggota masyarakat dalam hal-hal yang menguntungkan mereka.
Sedangkan solidaritas sosial dalam arti moral diwujudkan dalam bentuk kemauan untuk mengajak sesamanya untuk mengakui dan mengikuti kebenar-an serta menjauhi segala kemungkaran -al amru bil ma'ruf wannahyu 'anil munkar.
Ukhuwah sejati adalah ukhuwah yang dibina atas dasar keimanan. Rasa ukhuwah yang dibangun bukan atas dasar iman –entah itu kepentingan pribadi atau kelompok- hanya akan langgeng jika aspek yang menguntungkan kepentingan tadi ada. Tanpa dasar keimanan, persaudaraan hanya akan menjadi sarana untuk meraih kepen-tingan duniawi, tak lebih dari itu.

Berukhuwah dan Saling Menasihati
Termasuk dari lima orang pertama yang masuk Islam adalah Abu Bakar (wafat 13 H). Abu Bakar adalah teman dekat Nabi shallallahu alaihi wasalam . Keduanya telah lama berteman jauh sebelum Nabi diangkat menjadi Nabi & Rasul. Dan lewat persahabatan, Abu Bakar meng-Islamkan Usman bin Affan (wafat 40 H), Zubair bin Awwam (wafat 36 H), Abdurrahman bin Auf (wafat 34 H), Sa'd bin Abi Waqqas (wafat 55 H) dan Thalhah bin Ubaidillah (wafat 36 H). Di sini Abu Bakar menggunakan hubungan persahabatan untuk menyebarkan Islam kepada teman-temannya yang dikenal kepribadiannya dengan baik.
Menasehati teman (seseorang) yang telah dikenal baik, kemungkinan untuk diterima lebih besar. Nasehat tidak mesti harus diterima, kadang bahkan tidak diterima sama sekali. Diperlukan waktu dan pengulangan nasihat agar dapat diterima –jika Allah menghendaki. Al-Qur'an dan Al-Hadits pun menggunakan bahasa 'pengulangan' untuk suatu perintah (baca: nasihat) tertentu.
Allah mengulang-ulang ayat yang artinya "maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan" seba-nyak 30 kali dalam satu surat (Ar-Rahman: 55). Tentunya ayat tersebut dilatarbela-kangi dengan hal yang tidak sama. Ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasalam : berilmu) adalah syarat mutlak menasihati. Nasihat adalah imad (tiang) agama. (HR Muslim).
Jaga muru'ah (kehormatan) dan harga diri dengan memberi nasihat sesuai apa yang kita kerjakan. Bercerminlah sebelum menasihati. Orang akan mencibir dan mencemooh terhadap orang yang mengatakan apa yang tidak diperbuatnya. Allahpun amat benci terhadap orang yang bersifat seperti itu.(Ash-Shaff: 3). Meniru matahari yang selalu menerangi alam raya tanpa harus memusnahkan dirinya, rasanya lebih bijaksana daripada menjadi sebatang lilin yang menerangi sebidang ruang gelap tapi dengan membakar diri sendiri. Wallahu a'lam. (Asri Ibnu Tsani).
Tafsir Ibnu Katsir dan rujukan lainnya. (Al-Sofwah)

BEKAL MATI SEMASA HIDUP

Bekal Mati Semasa Hidup

Dalam kitab Zahri Riyadl, dikisahkan bahwa Nabi Ya'qub telah bersahabat dengan malaikat maut. Suatu ketika Malaikat maut datang menjumpainya. Nabi Ya'qub bertanya,

"Hai Malaikat Maut, engkau datang sekadar untuk mengunjungi aku atau hendak mencabut nyawaku?"
"Aku datang sekadar berkunjung."
Ya'qub menimpali, "Jika demikian, aku punya hajat kepadamu."
"Apa hajatmu?"
"Aku minta agar engkau memberitahu aku jika telah dekat ajalku dan engkau mau mencabut nyawaku."
Malaikat Maut menyanggupi, "Ya, akan aku kirimkan dua utusan atau bahkan tiga."
Selang beberapa lama setelah pertemuan ini Malaikat Maut datang lagi. Seperti biasa Ya'qub bertanya, "Engkau datang sekadar berkunjung atau hendak mencabut nyawaku?"
Malaikat Maut menjawab, "Aku datang kali ini untuk mencabut nyawamu."
"Bukankah engkau telah berjanji mengirimkankan dua atau tiga utusan untuk memberitahuku sebelum ajalku dekat?"
"Aku telah melakukannya," jawab Malaikat. "Utusan pertama adalah rambut putih yang sebelumnya hitam. Utusan kedua adalah kelemahan tubuhmu yang sebelumnya kuat. Utusan ketiga adalah kebongkokan tubuhmu yang sebelumnya tegak. Semua itu adalah utusanku pada anak Adam sebelum mati."

'Aisyah, istri Rasulullah pernah bercerita, "Aku sedang duduk bersila di rumah, tiba-tiba Rasulullah saw masuk sambil mengucapkan salam. Aku bermaksud berdiri untuk menghormat dan memuliakan beliau sebagaimana kebiasaanku. Beliau bersabda. 'Tetap duduklah, engkau tak usah berdiri, wahai Ummul Mukmimin!' Beliau kemudian duduk meletakkan kepalanya pada pangkuanku, lalu tidur berbaring. Maka aku menghilangkan uban pada jenggotnya, aku dapati 19 rambut putih. Terpikirlah olehku bahwa beliau akan meninggalkan dunia sebelumku, sehingga tinggallah ummatnya tanpa Nabi. Maka aku menangis. Air mataku mengalir di pipi dan menetes pada muka beliau hingga beliau terbangun. Beliau bertanya, 'Gerangan apakah yang engkau tangisi wahai Ummul Mukmimin?'
Maka aku ceritakan segalanya. Kemudian beliau bertanya, 'Keadaan manakah yang lebih hebat bagi mayat?'
'Tunjukkanlah, wahai Rasulullah,' kataku.
'Bukankah engkau yang mengatakannya?' Aku menjawab,
'Tidak ada keadaan yang paling hebat bagi mayat daripada saat keluarnya mayat dari rumahnya, di mana anak-anaknya bersedih hati di belakangnya seraya berkata, 'Aduh ayah, aduh ibu,' dan ayah berkata, 'Aduh anakku.'
Nabi menimpali, 'Itu hebat, tapi masih adakah yang lebih hebat?'
Jawabku, 'Tidak ada yang lebih hebat bagi mayat dari ketika ia diletakkan di liang lahat dan ditimbuni tanah di atasnya. Kerabatnya kembali, begitu pula anak dan kekasihnya. Mereka semua menyerahkan kepada Allah swt beserta amal perbuatannya. Maka datanglah Munkar dan Nakir dari dalam kuburnya.'
Sahut Nabi, 'Adakah yang lebih hebat dari pada itu?'
'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'
Sabda Nabi, 'Wahai 'Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebat keadaan mayat adalah ketika orang yang akan memandikannya masuk ke rumahnya untuk memandikannya. Di kala itu ruhnya memanggil ketika ia melihat mayat dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluq mendengarnya, kecuali jin dan manusia.

Ruh: Wahai orang yang memandikan, kuminta kepadamu karena Allah, untuk melepaskan pakaianku dengan perlahan-lahan sebab saat ini aku beristirahat dari seretan malaikat Maut. (Dan jika disiram maka ia berteriak begitu).

Mayat: Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menuangkan airmu terlalu panas atau terlalu dingin, sebab tubuhku terbakar dari lepasnya ruh.
Jika mereka memandikannya, maka berkatalah ruh: Demi Allah, wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menggosok aku dengan kuat, sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya ruh.'"

Secara alamiah, manusia itu berproses dari tidak ada menjadi ada, untuk kemudian tidak ada lagi. Keberadaannya dimulai dari ketika masih berupa janin dalam rahim seorang ibu. Dari ujud yang belum berbentuk hingga menjadi janin yang siap dilahirkan ke dunia.

Ketika lahir seorang bayi belum bisa mendengar, melihat, dan berkata. Ia hanya bisa melakukan aktivitas yang sifatnya naluri, seperti menangis, gerak-gerak kecil, dan minum. Keberlangsungan hidupnya sangat bergantung pada pertolongan orang lain. Ia sangat lemah.

Dari bayi tumbuh menjadi kanak-kanak yang lucu, kemudian terus berkembang menjadi remaja, dan dewasa. Pada masa remaja dan dewasa inilah seorang manusia menjadi kuat dan sempurna pertumbuhan dan perkembangannya. Waktu terus berjalan, akhirnya seorang manusia memasuki usia tua. Kekuatan dan kesempurnaannya pelan-pelan sirna termakan oleh usia. Ia menjadi lemah kembali.

Allah swt menggambarkan hal ini dengan indah sekali.
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS. Ar-Ruum: 54)

Secara normal, itulah siklus kehidupan manusia di dunia. Dari lemah menjadi kuat, kemudian lemah kembali, untuk selanjutnya mati. Sudahkah kehidupan berakhir sampai di sini? Masih ada kehidupan yang lebih abadi.

Kematian secara alamiah pasti datang menjemput siapa saja. Karenanya kematian tidak perlu ditakuti. Sekalipun manusia bersembunyi dalam benteng yang paling rapat, maut pasti datang menjemput. Kepada sesuatu yang sudah pasti ini manusia hanya bisa pasrah menyerah. Dokter yang paling ahli sekalipun tak bakal mampu mencegah. Bahkan dirinya sendiri tak bisa melakukan apa-apa ketika malaikat maut datang mencabut nyawanya.

Dalam keadaan normal, Allah selalu memberi isyarat sebelum sesuatu itu terjadi. Sebelum datangnya hujan, terlebih dahulu Allah menghadirkan mendung. Sebelum tidur, manusia dibikin ngantuk. Sebelum mati, Allah memberi aba-aba dengan dua hal di atas, yaitu uban dan kemunduran fisik. Sebelum mati, terlebih dahulu Allah memberinya sakit.

Sayang, aba-aba semacam ini kurang diperhatikan manusia, karena panjangnya angan-angan dan besarnya harapan tentang kehidupan di dunia. Akibatnya, kematian yang sudah pasti itu mereka lalaikan. Ketika kematian betul-betul datang, mereka kaget karena belum memiliki kesiapan.

Hasan Al-Bisri, salah seorang tokoh Sufi meriwayatkan suatu hadits dari Rasulullah: "Sukakah kamu masuk surga?" Para sahabat menjawab, tentu, ya Rasulullah! Rasulullah bersabda, "Pendekkan angan-anganmu, gambarkan ajalmu di depan mata, dan jagalah baik-baik kesopananmu di hadapan Allah."

Banyak manfaat yang bisa dipetik dari mengingat maut ini. Seseorang yang merasa ajalnya sudah dekat akan bersungguh-sungguh dalam beribadah, serius dalam beramal shalih, dan berusaha untuk meninggalkan perbuatan yang sia-sia, serta membuang jauh-jauh perasaan malas untuk beramal.

Selain itu ia akan menjadi zahid, tidak rakus pada dunia. Baginya dunia hanyalah jembatan yang bisa mengantarkannya ke surga atau neraka. Sebagai jembatan, dunia itu perlu dilalui dengan hati-hati. Kesalahan sedikit bisa berakibat fatal, yaitu tergelincir ke lautan neraka.

Orang yang mengingat mati juga akan bersegera untuk bertaubat. Mereka tidak menunggu-nunggu lagi, sebab di pelupuk matanya sudah tergambar mayyit yang diusung ke keburan. Di hatinya malah sudah terukir berbagai nikmat surga yang akan didapat, atau siksa neraka yang mungkin menimpanya akibat berbagai kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat. Maka segala perbuatan dan tingkah laku yang menghalangi seseorang untuk melakukan ketaatan kepada Allah segera disingkirkan. Mereka senantiasa memilih jalan yang diridhai-Nya.

Adapun orang yang panjang angan-angannya akan selalu menunda-nunda kebaikan. Mereka merasa bahwa masa hidupnya masih panjang, sementara berbagai kenikmatan dunia belum sempat dirasakan. Mereka ingin terus mengejar, sampai akhirnya kaget ketika malaikat maut datang untuk mengakhiri riwayat hidupnya.

Itulah sebabnya Rasulullah sering melontarkan do'a sebagai berikut: "Ya Allah, Aku berlindung kepadamu dari dunia yang menghalangi kebajikan untuk akhirat. Aku berlindung kepada-Mu dari kehidupan yang menghalangi kebajikan untuk mati. Dan aku berlindung pula kepada-Mu dari angan-angan yang mengganggu kebajikan untuk beramal."

Dalam kitab Bidayah, Imam Al-Ghazali berpesan, "Hendaknya Anda senantiasa merenungkan umur yang pendek di dunia, jika dibandingkan dengan tempat tinggal di negeri akhirat yang kekal sepanjang masa, meskipun Anda merasa bisa hidup selama seratus tahun.

Renungkan pula betapa susah, payah, dan hinanya Anda dalam mengejar dunia, sebulan atau setahun, dengan harapan Anda akan hidup selama dua puluh tahun, misalnya. Akan tetapi mengapa Anda enggan bersusah payah sedikit ketika hidup di dunia, agar Anda merasakan peristirahatan yang kekal di akhirat kelak?

Dalam kondisi kita sekarang ini, Allah tidak mengharap agar kita mengurangi aktivitas keduniaan, sebab ummat Islam sekarang masih belum beranjak dari kemiskinan. Kita tetap berkewajiban untuk menuntaskankan tugas kekhalifahan di muka bumi dengan lebih banyak memberi kesejahteraan bagi penghuninya.

Di sela-sela kesibukan kita mengurus dunia, jangan lupa mengurus kehidupan akhirat. Jika kita rela mengurus dunia dengan susah payah hanya sekadar untuk waktu yang sangat singkat, kenapa kita tidak bersungguh-sungguh menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal?

Selasa, 16 Maret 2010

UPACARA ADAT PERNIKAHAN SUNDA

UPACARA
ADAT PERKAWINAN SUNDA


D
I
S
U
S
U
N


KU:

MANG BECUS




















Upara Adat Panganten Sunda
Upacara adat ieu sanes mangrupi hiji upacara keagamaan, nanging salah sahiji budaya sunda warisan jaman baheula, ti para luluhur Pajajaran nu aya di Tatar Sunda/ Pasundan ( Jawa Barat ), hal ieu mangrupa kakayaan budaya Indonesia

Mapag Panganten (Menjemput Penganten)
1. Gamelan Kebo jiro / Sangkakala
Mangrupa bewara keur balarea yen panganten anu lalaki sareng sadaya nu jajap tos dongkap, panganten sareng sadaya nu jajap diandeg/ ditahan dipanyaweran/ di lawang pamor. Si Lengser midang/ lumampah, di tuturkeun kupamayung, diiring ku para mojang/ mamayang, dikawal ku para ponggawa seja mapag panganten dilawang pamor.

Narasi/ Sesepuh:

Demi mangsa !
Satemena hirup teh geus mapasangan ringkangna
Mungguh beurang, jeung caangna!
Mungguh peuting jeung weningna!
Mungguh lahir jeung batinna!
Eusian ieu ringkang mapasangan, ku amal kamulyaan !
Saperti, kecap welas asih, jeung asihna, langgeng abadi!
Saperti pancen rabi ti Illahi
Habluminanas………….., insan jeung insana
Habluminallah…………., Insan ka Allahna !
Pon kitu deui,
Dina ringkang kamanusaan
Aya asih ti sanubari
Aya rasa duriat manjang na mangsa
Tapel adam, tapel lahir, tapel batin !
Anteb ! rabi jatukrami.
Jung…………. geura nararikah !
Insan insan anu nyorangan, jeung papada insan
Anu layak kararawin, ti insan papada insan !
Anu lalaki jeung wanoja !
Upamana manehna walurat
Gusti Allah, baris ngaganjar pirang pirang kabagjaan
Mantena Allah, nu maha jembar, kinasihannana
Mantena Allah ! maha uninga, Aaaaaaaaaamin
2. Pangbagea ti ibu rama panganten istri ( ku narasi / sesepuh dipirig ku kacapi )

Narasi/ Sesepuh:
Bagja temen, mulya temen anakiiiiiiiiiiiiiiiing
Nunuuuuuuuuuuuun ………. Wilujeng rawuh
Dianti anti kamari, dilanglangan kasimpangan
Ditalungtik kanu indit sugan geus ngembaran beja
Anu kasep satuhu !
Nuuuuuuuuuuuun …… satuhuu !
Dipapag antayan mojang, diibingan digendingan
Disoran rampak tembang, haturan anaking
Dipayungan payung tangtung
Sumangga anakiiiiiiiiiiiing , geura ngalinjiiiiiiing………… !
Wuuuuuuuuuur ………….., kembang kaheman
Wuuuuuuuuuur ………….., wangi kasturi
Wuuuuuuuuuur ………….., malati asih
Wuuur …..., Wuuur …….., ahuuuuuuuung………………………….
(.gamelan rampak digederkeun) teras Kebo Jiro
(Suling digelikeun 2X, Gamelan bareng digederkeun, ditema kacapi suling dina lagu……….., si Lengser , di tuturkeun kupamayung, diiring ku para mamayang, dikawal ku para pongawa, panganten sareng sadaya nu jajap diiringkeun kapayuneun ibu rama panganten istri nu nuju ngantosan.
Lagu : Aling aling sanubari, Alang alang nya kasmaran
Katedak mandawa ringkang, Ringkang tedak pangantenan
……..Instrumen 1X gong ……………
Mapayna manjang aleutan, Sinanglingan wawangian
Raksukanna karaseman, Pinitan jang pangantenan
….instr ……3X gong, laguna ku suling …
Reff : Dipapag jajaran mojang, Diawuran wawangian.
Haturan jeung pinilihan, Haturan salira engkang
………..Instrumen 1X gong …………
Aleutan mojang pingitan, Nanggeuy baki sinanglingan
Eusina kancana heman, Kasima kapangantenan
……..Instrumen 3X gong ………
Umbul umbul nawaetu, Warna warni narik ati
Kasajagat kasantana, Kasima kapangantenan
……………..Instrumen 1X gong ……………
Dipapag jajaran mojang, Diawuran wawangian
Haturan jeung pinilihan, Haturan salira engkang
( instrumen 2X gong, teras gamelan digederkeun )
Narasi/
Sesepuh biantara :
Deg… , Randeg di pangadeg !!!
Sawangan kahayang, geus narawangan.
Didieu tutug rahayu! didieu gilig rabi !
Wawanen ebreh
Umbul umbul nawaetu, mancuh saestu !
Warna, warni pulasna.
Mareng jeung warnaning ati, lir…., katumbiri !
Tuh ……. paul diditu, ngebreh dina hate.
Jungnunan….,
Hayu… ! urang geus deukeut, geus meumeut, tug kajucung
Hayu… ! dibale nyungcung, urang beungkeut ……..!!!
Bismillahirrohmannirrohim…………………..
3. Kalung kemben, sungkem, seserahan, sawer panganten, meuleum harupat, nincak endog, buka pintu, huap linkung sareng hiburan nana.

3.1. Kalung Kemben
Lagu :

Istri : Bagea……. wilujeng rawuh… , Anaking sumangga linggiiiiiiiih
Pmg : Ulah kasmaran, mangga niatan, ngambah tangga…… kabagjaan

Rs(Pa/Pi) : Manjing rabi, manjing suci
Manjang gelar tuturunan
Mapasangan sauyunan
Welas asih salawasna
Munggaran amparan lambak
Laun laun nyiram lambak
Ngabandaan keur budaya
Harta banda rumah tangga
Dalingding wangi malati
Nu rebak mayakpak bodas
Nu disaur ku duaan
Tuda keun kaduaan
Payung tangtung nawaetu
Kayuna garing rimbitan
Poma ulah kasamaran
Rasaan diri sorangan

Narasi/ Sesepuh :
Cag…. ringkang dilawang pamor, awor mapasangan.
Antara anu tandang jeung anu nganti
Cag….. garana heula ieu pangbagea
Riwayahna tampi kuasihna
Kalung kemben, kaheman

Panganten anu lalaki dicangcang ku kemben/ karembong (selendang ) rantayan kembang malati



Narasl :
Cag….. garana heula ieu pangbagea
Riwayahna tampi kuasihna
Kalung kemben, kaheman
As Istri : Rum nya arum
wangi pilih wangi
nyambuang …….. nyambuang
kembang kabagjan kaheman
wilangan kalimah Allah
pastina sungkeman iman

………..Gamelan digederkeun……….
Rs : Rum…… arum, Rum…..arum, Rum….arum

As. Pmg : Reana satangtung nu ngalulut kana kalbu
Minangka tedak sarasa, mapasangan
Sumangga angseuh saseuseup meuneut
Tampi galih sanubari

………..Gamelan digederkeun……….
Rs : Rum…… arum, Rum…..arum, Rum….arum

Teras dikongkorongan/ dikalungan ku mangle (untaian bunga melati ) oleh ibu ramana, rengse dikalungan, penganten lalaki sungkem/ sembah sujud ka sepuh sepuh, “utamina ibu rama” ( dipirig ku lagu Tepang asih gendingna Catrik )
Lagu Tepang Asih

Tepang asih , tepang asih
Tepang geura ku kabungah
Manjing sekar pang wilujeng
Wilujeng ka anu lenggah

Tepang asih , tepang asih
Tepang geura ku kabungah
Sumangga sing raos lenggah
Sumangga sing raos manah
Reff :
Tepung liwung, ngahariring
Ngahariring mun digending
Mugi bagja sadayana
Waluya salalamina
------------------------------------ Instr ------------------------
5
Tepang asih , tepang asih
Tepang geura ku kabungah
Nyanding sekar pangwilujeng
Wilujeng ka anu lenggah

Tepang asih , tepang asih
Tepang geura ku kabungah
Sumangga sing raos lenggah 2X
Sumangga sing raos manah

Reff :
Gempung riung ngahariring
Ngahariring mun digending
Mugi bagja sadayana
Waluya salalamina
---------------- kenbali ke awal ----------------------------

3.2. Sawer Panganten
( diiringi lagu Catrik sawilet 2X gong naek 2 wilet, saterusna ku Catrik 2 wilet)

Narasi/ Sesepuh :
Rengse upacara akad nikah sareng kalung kemben mangga urang teraskeun kana acara Sawer panganten, Meuleum harupat, Nincak endog, Buka pintu, huap linbkung sareng sajabina anu engkena diteraskeun kana acara hiburan.
RS : Jung… nanjung ……….,
Jung … nanjung ……….,
Jung …nanjung ……….,
Jung …nanjung ………..,
Mugi……..Gusti………nangtayungan.

Wur … nanjung…………..,
Wur … nanjung…….…….,
Wur … nanjung…………..,
Wur … nanjung…………..,
Mugi ….gusti …… nangtayungan

(…………..Instr teras digederkeun………………)

Narasi/ sesepuh ngarajah dilagukeun anu eusina mangrupa piwuruk/ wejangan dina enggoning ngambah sagara rumah tangga, sangkan ayem tengtrem pinanggih sareng kabagjaan didunya rawuh aherat.

6
Lagu :
Pameget : Balungbung jalan rahayu, ngembat jalan ngararabi
Balungbung jalan rahayu, ngembat jalan ngararabi
Awalna nyatepung rasa, masket asih lahir batin
Dipatri ku akad nikah, tingtrim asih laki rabi
Istr : Hidep ginanjaran bagja, Tepung rabi jatuk….. rami
Nu ka ungkara carita, Natrat dina rumah tangga
Jimatna ngan welas asih, Antara hidep duaan, ieung…..
Poma lali kana pawit,Eunteup teuteup tepung rasa,
Dumeling asih mandi…..ri, Ngancik asih pahang pati
Pameget : Mungguh tuturus lumaku
Eunteungan diri pribadi
Lamun papanggih cocoba
Mangsana deukeut, anggang wiwilangan
Kudu meruhkeun ka nafsu
Poma masing nyasatuhu
Dipindingan iman Islam
Jauhan sipat takabur
Nu ngancik ngan welas asih
Eta bebentengna rabi
Istri : Ayeuna nya nawaetu
Ku asma…..na Illahi
Bismillahna jait janglar
Rahman rahim nu dipamrih
Ngambah hirup rumah tangga
Kenging rahmat ti hyang widi
Tumut ka papagah sepuh
Tawisna hidep mupusti
Kunci gedong kabajaan
Aya disepuh utami
Pundut mah anggur do’ana
Sangkan mulus laki rabi
Pameget : Hidep cunduk kana waktu,
Boga kabeungbeurat ati
Nyatana bojo utama, eulis pinilihan hate
Sing bisa mulasarana, sangkan rapih laki rabi
Eulis kudu nyamituhu
Kapanutan siang wengi
Kacaroge teh panutan, sumujud ku ati suci
Cegahan lampah ngarinah, tigin mupusti miasih

( ……………………………..instr…………………………………….)


7
Seserahan/ Seren sumeren

Pur ngempur ngempur
Kujang karancang kawani, Dilugas…..,
Dilugaskembang kaheman
Tutungkusan Pajajaran
Kujang, kemben mapasangan….
Ituh ……………………………
Istri : Deudeuh geulis sing satuhu
Sing satuhu salawasna ….. ieuh
Kemben saksina nyalampah
Nyalampah ingkar sorangan
Pameget: Kujang kemben mapasangan, Lambang atikan kaheman
Istri : Ayeuna rek disanggakeun
Kujang kemben tuturunan
Ditampi ku ibu ramana……..
( Pusaka kujang ditampi ku ibu sareng rama teras di selapkeun dina cangkeng panganten pameget.

……….gamelan digederkeun……….., terasna Pangkat lagu di handap)

3.3. Meuleum harupat
lagu:
Meuleum harupat kudu salapis
Tuh hurung ngempur, tah tangharaan
Ning wening sangli, ngebrak lir siang
Ruhay harupat ulah getas harupateun
Endog si jago, geus meupeus tineung
Mustika ati…………, seja ngasaan
Kendi sahiji….........., eusina cai
Ngambah paranti….., seja susuci
Imut malati…………, keletna antra
Imutna surti……….., dua ngahiji
Bray siang caang….., malati kimgkin
Kamustikaan………., ray sinanglingan…………………



Air dan bunga harum tujuh macam, perlambang dari sapta – patala di alam kabir dan 7 macam kenikmatan di alam sabir, dibasuhkan kepada kaki sang suami, agar kesejukan, kebeningan, kesucian, ketentraman dan kesetiaan sang istri tertanam hingga ke lubuk hati yang paling dalam.
Ini adalah langkah pengabdian seorang istri terhadap suami juga di harapkan setiap langkah harus di dasari oleh kebersihan hati dan kesucian jiwa.

MECAHKAN KENDI :
Kendi harus di pecahkan bersama – sama melambangkan bila dalam hidup nantinya mendapatkan suatu masalah, maka masalah itu harus dipecahkan bersama, cari jalan atau solusi yang terbaik.


3.4. Buka Pintu

Narasi : Rengse meuleum harupat, omat ulah getas harupateun. Salajengna mangga urang sami sami bandungan, buka pintu, anu terasna dipungkas ku huap lingkung.

Pameget : Sampurasun……… , sampurasun
Tok ……., tok…….. tok………..
Istri : Saha eta nu diluar
Kurang tata titi surti
Taya pisan bema krama
Pameget : Panutan eulis sajati, datang mawa kabagjaan
Istri : Palangsiang nyiliwuri, ngaku ngaku panutan
Inggis jalma mamalihan
Pameget : Teungteuingeun, duh enung bet luluasan
Istri : Panutan abdi mah aya, mung kiwari taya linggih
Ngipayahan rumah tangga
Gancang indit, geura nyingkah
Pameget : Tayohna euis kasmaran
Galindengna sora kakasih
Panutan anu bumela beubeulahan nyawa eulis
Panyileukan panyileukan, jungjunan nyalahir batin
Istri : Baeu sumangga nya lenggah
Upami panutan abdi
Ucapkeun heula sahadat
Tawisna nya iman islam
Ngangken papagon agama
Pameget : Mungguh Allah maha agung
Engkang ngangken ka mantena
Nyaksi Muhammad rasulullah
Istri : Bagja pisan duh panutan
Sembaheun nyasiang wengi
Bismillahirrohmanirrohim
Ashadu ala illaha ilallah, waashadu anna muhammad darasulullah

9
3.5. Huap Lingkung
HUAP LINGKUNG / SUAP – SUAPAN :
Huap lingkung terdiri dari dua kata yaitu : Huap artinya Suap, dan lingkung asal kata melingkung jadi saling menyuapi / suap – menyuap.
Huap lingkung menggambarkan suasana roman kebahagiaan dan ke akraban antara kedua keluarga mempelai.

RS : Ayang ayang gung , Gung gogongna rame
Menak galumbira , Restu pangantenan
Ayang ayang gung, Gung degungna ngungkung
Ngungkung lalaguan, Bari huap lingkung
Anu huap lingkung, kung silih talikung
Silih huapan, silih lewekan
Pameget : Hus……… entong geruh, Ruhay matak marah.
Rasiah panganten
RS : Huuuusss……………………tong, gareuwah
RS : Anu huap lingkung, Kung silih keletan,
Tan silih delekan, tanda nih asyik yeh…..
Pameget : Huuuuuus…………montong kitu, Tuh asyik asyikan
Eta mah rusiyeh………..
RS : Yang pangantenan……..
RS : Anu huap lingkung, kung silih betotan
Ping…..pingna ku pamegetna
Pameget : Hus………. entong geruh, Tong……... kabitaan
Urang…….. jeung urang
RS : Tanda kaera………

RS : Ayang ayang gung, Gung karia rame
Menak enak enak………
Urang galumbira………
(……………….. Instr………………… )

RS : Ayang ayang gung, gung na pangantenan
Pinuh kasukaan…………
Bagja mapasangan……..
Pameget : Hus……… entong geruh, Ruhay matak marah.
Rasiah panganten
Husssss ……………………….…tong gareuwah
RS : Anu huap lingkung, Kung silih keletan
Tan silih delekan
Tanda nich asyik yeah
( Instr…………………………………………………. )
RS : Seyang seyang…….. ngahariring
Seyang seyang…….. ngahaleuang
Ngungkung ……….. gumbira ngariung
Seyang ……………. seyang…………
Istri : Hiji waktu urang tepung, Kabungah geura gumulung
Nya didinya urang lawung, Silih lubarkeun katineung
Mangsa pileuleuyan……. Urang asa kaleumgitan….
Lagu tineung panungtungan, Asa dina pangimpian…….
(…………………..…….Instr ………………………… )
RS : Seyang seyang…….. ngahariring
Seyang seyang…….. ngahaleuang
Ngungkung ……….. gumbira ngariung
Seyang ……………. seyang…………
Pameget : Hiji waktu urang tepung, Kabeurat geura tumuwuh
Nya di dieu…. Urang lawung, Silih lubarkeun katineung
Mangsa pileuleuyan……… Urang asa kaleungitan
Rangkul tineung panungtungan, Asa dina pangimpian……….
RS : Seyang seyang…….. ngahariring
Seyang seyang…….. ngahaleuang
Ngungkung ……….. gumbira ngariung
Seyang ……………. seyang…………
Istri : Hiji waktu urang tepung, Kabungah geura gumulung
Nya didinya urang lawung, Silih lubarkeun katineung
Mangsa pileuleuyan……. Urang asa kaleumgitan
Lagu tineung panungtungan, Asa dina pangimpian…….
( ………………….Instr …………………… )
Teraskeun kana kebujiro 3X goong, kebojiro dilaunkeun mirig narasi/ sesepuh nyarios panutup upacara adat )
Narasi/ Sesepuh :
Tutug rahayu
Upacara pangantenan sakitu
Muga manjang na jajaran, dituturunan budaya sunda
(rangse sesepuh nyarios, kebojiro ditaekeun/ dicepetkeun luyu sareng kabutuh)
Saterasna mangga nyanggakeun hiburan dina lagu :
“Rayak rayak suka bumi” ti Lingkung Sni CAHAYA MEDAL Pingpinan
Abah Umun !!!

11



Upara Adat Panganten Sunda

Mapag Panganten (Menjemput Penganten)

1. Gamelan/ gending Kebo jiro
Mangrupa bewara keur balarea yen panganten anu lalaki tos bade dongkap, Saparantos dongkap, panganten sareng sadaya nu jajap diandeg/ ditahan dinalawang pamor.Teras si Lengser midang/ lumampah, di tuturkeun kupamayung, diiring ku para mojang/ mamayang, dikawal ku para ponggawa mapag panganten dilawang pamor

Narasi/ Sesepuh:

Demi mangsa !
Satemena hirup teh geus mapasangan ringkangna
Mungguh beurang jeung caangna,
Mungguh peuting jeung weningna
Mungguh lahir jeung batinna
Eusian ieu ringkang mapasangan ku amal kamulyaan
Saperti, kecap welas asih, jeung asihna
Langgeng abadi
Saperti pancen rabi ti Illahi
Habluminanas………….., insan jeung insana
Habluminallah…………., Insan ka Allahna

Pon kitu deui,
Dina ringkang kamanusaan
Upacara Adat Pengantin Sunda

Upacara adat sunda ieu sanes mangrupi upacara keagamaan, nanging, hiji ciri tanda nyata yen urang sunda / di tatar Pasundan teh ngabogaan hiji kabudayaan anu kacida luhur ajenna, tur ngandung siloka anu kacida pisan munel, aupami ku urang diguar/ disaliksik nepi ka bubuk leutikna tangtos seueur pisan mangfa’atna dina kahirupan urang sapopoena.
Cunduk waktu ninggang mangsa nitih wanci nu utami bapa, ibu miwah wargi wargi sadaya hayu urang bandungan upacara mapag panganten !
Mapag Panganten (Menjemput Penganten)
Mapang hartosna “neang”, / menyambut.
Panganten hatosna pengantin ( mempelai pria )
Janten Mapag Panganten teh pihartoseunana kirang langkung menjemput penganten, dalam hal ini tentu penganten yang dijemput ini penganten laki laki.
Disarengan kurasa bungah, bungangang, bungah amarwata suta, bungahna kagiri-giri. Bungah nu taya watesna bungah nu teu bisa digambarkeun kuendahna caritaan sok sanajan eta caritaan teh kenging ngareka para pujangga.
Cunduk waktu ninggang mangsa nu utama, Nitih wanci nu utami dimana urang geus cukup umur/ manjing dewasa, prak geura narikah, sok sanajan dina kaayaan walurat mungguh gusti Allah mah maha ununga, maha jembar kinasinana, gusti Allah bakal ngaganjar mangpirang pirang kabagjaan, ayeuna datang mangsana, Alhamdzulillah tuh geus deukeut, geus meumeut, tapel adam, tapel lahir, tapel batin, iraha deui hayu urang beungkeut di bale nyungcung/ dimasigit urang rapalan ( akad nikahna dimasjid).








Aya rasa duriat manjang
Mangsa ........tapel adam, tapel lahir, tapel batin !
Anteb rabi jatukrami.
Jung…………. geura nararikah !
Insan insan anu nyorangan jeung papada insan
Anu layak kararawin, ti insan papada insan
Anu lalaki jeung wanoja
Upamana manehna walurat…………..
Gusti Allah baris ngaganjar pirang pirang kabagjaan
Mantena Allah, nu maha jembar, kinasihannana
Mantena Allah, maha uninga, Aaaaaaaaaamin
( Teraskeun kana pangbagea )
2. Pangbagea ti ibu rama panganten istri ( ku narasi / sesepuh dipirig ku kacapi )

Nnarasi/ Sesepuh:
Bagja temen, mulya temen anakiiiiing
Nunuuuuun ………. Wilujeng rawuh
Dianti anti kamari, dilanglangan kaswimpangan
Ditalungtik kanu indit sugan geus ngembaran beja
Anu kasep satuhu, nuuuuuuun …… satuhu………
Dipapag antayan mojang, diibingan digendingan
disoran rampak tembang, haturan anaking
Aya asih ti sanubari



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Upacara Adat Penganten Sunda adalah sebagai adat/ tradisi dari nenek moyang secara turun temurun khususnya di tanah Pasundan ( Jawa Barat). Tatar/ tanah Pasundan mempunyai budaya yang sangat tinggi nilainya, penuh dengan filsapat yang kalau kita gali tentu banyak sekali makna yang bermanfa’at sebagai tuntunan dalakehudupan kita sehari hari.
Dalam peristiwa yang sangat sakral dan penuh kebahagiaan ini merupakan satu kenangan indah bagi kedua mempelai yang tadinya mereka adalah sepasang remaja / pemuda-pemudi. Namun mereka pada saat ini telah menjadi pasangan suami- istri.
Detik-detik jam sudah berlalu, waktu bergulir terus kita semua sudah menyaksikan, apa yang terjadi ? saat ini telah terjadi ijab dan qobul yaitu:

Cep Doddy Stia Permana,S.Kom
Bin Lili Uliana,S.Pd Alm
dengan
Neng Yopanda Dwu Tiara
Binti .............................

Semuanya itu adalah atas Izin dan Ridho Allah SWT.

Semoga allah mencurahkan keberkahan untuk kalian dan menyatupadukan kalian berdua dalam segala kebaikan







Dipayungan payung tangtung
Sumangga anakiiiiiiing……… , geura ngalinjiiiiiiing………… !
Wuuuuuuuuuur ………..…….., kembang kaheman
Wuuuuuuuuuur …………..….., wangi kasturi
Wuuuuuuuuuur ……………...., malati asih
Wuuuuuuuuuur ……………...., Wuuuuuuuuuur……..,
Ahuuuuuuuung……………………………..
(.gamelan digederkeun)


Narasi/ Sesepuh biantara :
Deg… , Randeg di pangadeg !!!
Sawangan kahayang, geus narawangan
Didieu tutug rahayu, didieu gilig rabi
Wawanen ebreh
Umbul umbul nawaetu mancuh saestu
Warna warni pulasna, mareng jeung warnaning ati,
lir…., katumbiri
Tuh ……. paul diditu, ngebreh dina hate
Jungnunan….,
Hayu… ! urang geus deukeut, geus meumeut, tug kajucung
Hayu… ! dibale nyungcung, urang beungkeut ……..!!!
Bismillahirrohmannirrohim…………………..





















(Suling digelikeun 2X, Gamelan bareng digederkeun, ditema kacapi suling dina lagu……….. , si Lengser , di tuturkeun kupamayung, diiring ku para mamayang, dikawal ku para pongawa nyandak panganten sareng sadaya nu jajap dugi kapayuneun ibu rama panganten istri nu nuju ngantosan.
Lagu :
Aling aling sanubari
Alang alang nya kasmaran
Katedak mandawa ringkang
Ringkang tedak pangantenan
Mapayna manjang aleutan
Sinanglingan wawangian
Raksukanna karaseman
Panitan jang pangantenan
Reff :
Dipapag jajaran mojang
Diawuran wawangian
Haturan jeung pinilihan
Haturan salira engkang
Aleutan mojang pingitan
Nanggeuy baki sinanglingan
Eusina kancana heman
Kasima kapangantenan

Bapa,ibu sareng wargi wargi anu sami sumping ngaluuhan ieu upacara, tuh tingali si Lengser midang, payung tangtung lungsur, teu kakantun manjangna antayan mojang nangguy baki sinanglingan nu dieusian rupa rupa wawangian dijaga ku para ponggawa sangkan leupas tina bahaya, bilih aya siku si wulu wulu maung ngamuk gajah meta, eta tugasna para ponggawa anu tos siap samapta sapakarangna toh pati jiwa raga, ngajaga iring iringan panganten sareng sadaya nu ngiring jajap, ngaleut ngungkeuy ngabandaleut, ngembat ngembat nyatang pinang, kenca katuhueun umbul umbul warna warni narik ati,di lawang pamor amprok awor mapasangan antara nu tandang sareng nu nganti lir katumbiri.










Umbul umbul nawaetu
Warna warni narik ati
Kasajagat, kasantana
Kasima kapangantenan
Dipapag jajaran mojang
Diawuran wawangian
Haturan jeung pinilihan
Haturan salira engkang

( instrumen 2X gong, teras gamelan digederkeun )

3. Kalung kemben, seserahan, sawer panganten, meuleum harupat,
nincak endog, buka pintu, huap linkung sareng hiburan nana.

3.1. Kalung Kemben

Lagu :

Istri : Bagea wilujeng rawuh……Anaking sumangga lenggah
Pmg : Ulah kasmaran.…Mangga niatan...Ngambah tangga kabagjaan
Rs(Pa/Pi) : Manjing badi, manjing suci
Manjang gelar tuturunan
Mapasangan sauyunan
Welas asih salawasna






















Munggaran amparan lambak
Laun laun nyiram lambak
Ngabandaan keur budaya
Harta banda rumah tangga
Dalingding wangi malati
Nu rebak mayakpak bodas
Nu disaur ku duaan
Tuda keun kaduaan
Payung tangtung nawaetu
Kayuna garing rimbitan
Poma ulah kasamaran
Rasaan diri sorangan
Narasi/ Sesepuh :
Cag…. ringkang dilawang pamor, awor mapasangan.
Antara anu tandang jeung anu nganti
Cag….. garana heula ieu pangbagea
Riwayahna tampi kuasihna
Kalung kemben kaheman
(Panganten dicangcang ku kemben/ karembong (selendang ) teras dikongkorongan/ dikalungan ku untaian kembang malati oleh ibu
mertua, selesai dikalungi lalu penganten laki laki sungkem/ sembah sujud kepada kedua orangtua )































3.2. Sawer Panganten
( diiringi lagu Catrik sawilet 2X gong naek 2 wilet, saterusna ku Catrik 2 wilet)

Narasi/ Sesepuh :
Rengse upacara akad nikah sareng kalung kemben mangga urang teraskeun kana acara Sawer panganten, Meuleum harupat, Nincak endog, Buka pintu, huap linbkung sareng sajabina anu engkena diteraskeun kana acara hiburan.

RS : Jung…….. nanjung,
Jung ……..nanjung,
Jung ……..nanjung
Jung ……..nanjung
Mugi……..Gusti………nangtayungan.
(Instr teras digederkeun………………)

Narasi/ sesepuh ngarajah dilagukeun anu eusina mangrupa papatah/ wejangan keur kedua penganten dina enggoning ngambah sagara rumah tangga, sangkan ayem tengtrem pinanggih sareng kabagjaan didunya rawuh aherat.






Bapa, ibu sareng sadaya anu sami nyaseni, nu dianti anti ti kamari, dilang langan dikasimpangan, ditalungtik kanu indit, sugan tos ngembaran beja teh ayeuna tos aya dipayuneun urang sadaya anu dibageakeun ku saweran. ( ieu anu disebat “SAWER PANGANTEN”
Saweran/ taweuran yaitu perbatasan antara teras dengan halaman rumah atau tempat jatuhnya air hujan dari genteng, sebagai mana air hujan jatuh dari genteng orang sunda bilang “ ngawer “ yang berarti menghambur
Sawer pihartoseun nana tabur/ hambur
Naon bae anu diawurkeun/ disawerkeun teh ? Rupa – Rupa !
Beas silokana ………………
Beas koneng silokana …………….
Duit kirincing ……………………..
Jeung rea rea deui
Sawer panganten teh ngandung siloka, anu kirang langkung pihartoseunna nyaeta: wejangan husus untuk kedua mempelai dan umumnya untuk kita semua ! Isuk jaganing geto dimana urang hirup tos mapan, salieuk breh, bru dijuru bro dipanto, ngalayah ditengan imah omat ulah poho ka sasama sanes hartosna urang kedah ngahambur hambur harta kaka kakayaan ku jalan anu teu puguh/poya poya, naging hamburkanlah harta dan kekayaan itu di jalan Allah, yang bermanfa’at untuk kehidupan lahir batin, dunya aherat.









Lagu :
Pameget : Balungbung jalan rahayu, ngembat jalan ngararabi
Balungbung jalan rahayu, ngembat jalan ngararabi
Awalna nyatepung rasa, masket asih lahir batin
Dipatri ku akad nikah, tingtrim asih laki rabi

Istri : Hidep ginanjaran bagja
Tepung rabi jatuk rami
Nu ka ungkara carita
Natrat dina rumah tangga
Jimatna ngan welas asih
Antara hidep duaan
Poma ngali kana pawit
Eunteup teuteup tepung rasa
Dumeling asih mandiri
Ngancik asih pahang pati

Pameget :
Mungguh tuturus lumaku
Eunteungan diri pribadi
Lamun papanggih cocoba
Mangsana deukeut
Anggang wiwilangan





















Kudu meruhkeun ka nafsu
Poma masing nyasatuhu
Dipindingan iman islam
Jauhan sipat takabur
Nu ngancik ngan welas asih
Eta bebentengna rabi
Istri :
Ayeuna nya nawaetu
Kuasmana Illahi
Bismillahna jait janglar
Rahman rahim nu dipamrih
Ngambah hirup rumah tangga
Kenging rahmat ti hyang widi
Tumut ka papagah sepuh
Tawisna hidep mupusti
Kunci gedong kabajaan
Aya disepuh utami
Pundut mah anggur do’ana
Sangkan mulus laki rabi


































Pameget :
Hidep cunduk kana waktu
Boga kabeungbeurat ati
Nyatana bojo utama
Eulis pinilihan hate
Sing bisa mulasarana
Sangkan rapih laki rabi
Eulis kudu nyamituhu
Kapanutan siang wengi
Kacaroge teh panutan
Sumujud kuati suci
Cegahan lampah ngarinah
Tigin mupusti miasih
( instr…………………………………….)

Pur ngempur ngempur
Kujang karancang kawani,
Dilugas……., dilugas kembang kaheman
Tutungkusan pajajaran
Kujang kemben mapasangan….
Ituh ……………………………






















Seren Sumeren ( Seserahan )
Bapa ibu kalih wargi sadaya sakumaha anu ku urang kasakseni sareng anu disebat ku sesepuh tea. Kujang teh hiji pusaka, pusaka tuturuna Pajajaran, pusaka anu kacida pisan ampuh dina mangsa harita, kiwari ieu pusaka teh hiji siloka yen urang pasundan teh ngabogaan pamadegan anu panceg, aya paribasa “moal unggut kalinduan moal oyag ka anginan, moal gedag bulu salambar “ kitu deui dina enggoning ngambah sagara rumah tangga omat ulah arek kabawa ku sakaba kaba/ anu teu puguh. Kudu mancuh saestu panceg lempeng, nyekel papagon agama.
Istri :
Deudeuh geulis sing satuhu
Sing satuhu salawasna ….. ieuh
Kemben saksina nyalampah
Nyalampah ingkar sorangan
Pameget :
Kujang kemben mapasangan
Lambang atikan kaheman
Istri :
Ayeuna rek disanggakeun
Kujang kemben tuturunan
Ditampi ku ibu ramana……..
( ……………………….gamelan digederkeun ………………… )

3.3. Meuleum harupat
lagu:
Meuleum harupat kudu salapis
Tuh hurung ngempur, tah tangharaan
Ning wening sangli, ngebrak lir siang
Ruhay harupat ulah getas harupateun
Endog digedog, geus meupeus tineung
Mustika ati…………, seja ngasaan
Kendi sahiji….........., eusina cai
Ngambah paranti….., seja susuci













Meuleum harupat siloka dimana urang hirup kumbuh kudu bijaksana aya paribasa “ Landung kandungan laer aisan, leuleus jeujeur liat tali “ ulah rek getas harupateun.
Endog, ari endog teh sami sareng bibit. Rumah tangga teh lain heureuykeuneun/ kaulinan. Sing enya enya, urang rumah tangga kedah ngahasilkeun generasi penerus nu leres leres anu mangfaat kengo agama, bangsa sareng nagara, utamina keur dirina pribadi.

Imut malati…………, keletna antra
Imutna surti……….., dua ngahiji
Bray siang caang….., malati kimgkin
Kamustikaan………., ray sinanglingan…………………

3.4. Buka Pintu

Narasi : Rengse meuleum harupat mangga urang sami sami
bandungan buka pintu, anu terasna dipungkas ku huap
lingkung.
Pameget : Sampurasun……… , sampurasun
Tok ……., tok…….. tok………..
Istri : Saha eta nu diluar
Kurang tata titi surti
Taya pisan bema krama
Pameget : Panutan eulis sajati, datang mawa kabagjaan
Istri : Palangsiang nyiliwuri, ngaku ngaku panutan
Inggis jalma mamalihan
Pameget : Teungteuingeun, duh enung bet luluasan
Istri : Panutan abdi mah aya, mung kiwari taya lenggah
Ngipayahan rumah tangga
Gancang indit, geura nyingkah






Buka Pintu
Bapa ibu miwah wargi wargi sadaya mangga urang bandungan deui acara salajengna nyaeta buka pintu!
Buka pintu ieu husus wejangan kanggo panganten anu nembe nincak ambalan rumah tangga, dina enggoning ngambah sagara rumah tangga teh teu gampang, loba pisan gogoda sareng cocobana, teu saeutik jurig nu nyiliwuri omat sing ati ati utamina kanggo nu istri ulah gampang mukakeun lawang dimana panutan kakasih ati taya lenggah, hal ieu di pahing pisan. Geuning ku agama oge dipahing pisan, tong boro indit kaditu kadieu lumampah anu teu puguh, dalah sakalieun nu janten sepung teu damang oge teu dimeunangkeun urang ngalongok tanpa izin ti caroge, margi ari caroge teh panutan nu wajib dipunjung, dipuja didama dama.


Pameget : Tayohna euis kasmaran
Galindengna sora kakasih
Panutan anu bumela beubeulahan nyawa eulis
Panyileukan panyileukan, jungjunan nyalahir batin
Istri : Baeu sumangga nya lenggah
Upami panutan abdi
Ucapkeun heula sahadat
Tawisna nya iman islam
Ngangken papagon agama
Pameget : Mungguh Allah maha agung
Engkang ngangken ka mantena
Nyaksi Muhammad rasulullah
Istri : Bagja pisan duh panutan
Sembaheun nyasiang wengi
Bismillahirrohmanirrohim
Ashadu ala illaha ilallah, waashadu anna muhammad darasulullah
































3.5. Huap Lingkung
Lagu :
RS : Ayang ayang gung ,
Gung gogongna rame
Menak galumbira ,
Restu pangantenan

Ayang ayang gung,
Gung degungna ngungkung
Ngungkung lalaguan,
Bari huap lingkung
Pameget : Hus……… entong geruh,
Ruhay matak marah, rasiah panganten
RS : Yang Pangantena………………
Pameget : Huuuusss……………… gareuwah
RS : Anu huap lingkung,
Kung silih keletan,
Tan silih delekan…………
tanda nih asyik yeh…..
Pameget : Huuuuuus…………montong kitu,
Tuh asyik asyikan, eta mah rusiyeh……..
RS : Yang pangantenan……..





















RS : Anu huap lingkung, Kung silih keletan
Ping…..pingna ku pamegetna
Pameget : Huuuus………. entong geruh, Tong……... kabitaan
Urang…….. jeung urang
Tanda kaera………
RS : Ayang ayang gung, Gung karia rame
Menak enak enak……… Urang galumbira
(……………….. Instr………………… )

RS : Ayang ayang gung, gung na pangantenan
Pinuh kasukaan………… bagja mapasangan
Pameget : Huuus……… entong geruh, Ruhay matak marah.
Rasiah panganten
RS : Husssss…….…tong gareuwah .
RS :
Anu huap lingkung, Kung silih keletan
Ping…..pingna ku pamegatna
( Instr…………………………………………………. )


























RS : Seyang seyang…….. ngahariring
Seyang seyang…….. ngahaleuang
Ngungkung ……….. gumbira ngariung
Seyang ……………. seyang…………
Istri : Hiji waktu urang tepung, Kabungah geura gumulung
Nya didinya urang lawung, Silih lubarkeun katineung
Mangsa pileuleuyan……. Urang asa kaleumgitan….….
Lagu tineung panungtungan, Asa dina pangimpian…….
(…………………..…….Instr ………………………… )
RS : Seyang seyang…….. ngahariring
Seyang seyang…….. ngahaleuang
Ngungkung ……….. gumbira ngariung
Seyang ……………. seyang…………
Pameget : Hiji waktu urang tepung, Kabeurat geura tumuwuh
Nya di dieu…. Urang lawung, Silih lubarkeun katineung
Mangsa pileuleuyan urang asa kaleungitan
Rangkul tineung panungtungan, Asa dina pangimpian…
( ………………….Instr …………………… )
Istri : Hiji waktu urang tepung, Kabungah geura gumulung
Nya didinya urang lawung, Silih lubarkeun katineung
Mangsa pileuleuyan……. Urang asa kaleumgitan
Lagu tineung panungtungan, Asa dina pangimpian…….





















Teraskeun kana kebujiro 3X goong, kebojiro dilaunkeun mirig narasi/ sesepuh nyarios panutup upacara adat )
Narasi/ Sesepuh :
Tutug rahayu
Upacara pangantenan sakitu
Muga manjang na jajaran, dituturunan budaya sunda

(rangse sesepuh nyarios, kebojiro ditaekeun/ dicepetkeun luyu sareng
kabutuh) Saterasna mangga hiburan………………………!!!






































UPACARA ADAT SUNDA
NGADAHUPNA
CEP DODY STIA PERMANA ( AKONG ) BIN LILI ULIANA PERMANA
SARENG
NENG YOPANDA DWI TIARA ( PANDA ) BINTI PULAN
PING :26 JUNI 2008
DI
PALEMBANG

Suling Sunda

video

Amalan Hati

Amalan Hati
09/06/2002
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dalam kesempatan ini kita akan mencoba membahas tentang "Amalan Hati", tentunya sudah banyak pembahasan-pembahasan yang berkisar tentang hati dan pembahasan dalam berbagai jenis hati. Kalau kita bicara masalah amalan hati, kita akan mengetahui bahwa amalan pada diri manusia ada dua unsur: amalan dhahir (raga) dan amalan bathin (hati).
Kita sering membahas amalan dhahir dalam segala seginya, misalnya gerakan dan bacaan salat, haji, puasa dll. Dalam kesempatan yang baik ini kita akan mencoba mengarungi dan menjajaki sejauh mana amalan hati dan juga sejauh mana hati kita dalam aktifitasnya. Kita sering menyatakan kata sibuk. Jika seorang bertanya pada kita apakah pada jam sekian atau hari sekian kamu ada waktu, maka kita sering mengaatakan kalau kita sedang ada kegiatan atau acara: hal itu kita katakan sibuk. Sibuk dalam kegiatan di sini yang sering kita gambarkan adalah aktifitas raga kita, padahal kalau kita amati dan resapi serta renungkan hati kita lebih sibuk dari apa yang ada pada raga kita.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Bagi kita yang ingin memperdalam tentang masalah ini ada baiknya membaca kitab Ighatsatullahfan Ibnu Qoyyim atau ringkasanya Mawaridulamaan al-Muntaqo min Ighatsatulahfaan oleh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Halliby. Dalam kitab ringkasannya kita akan mendapatkan apa yang dibahasa oleh Ibnu Qoyyim dengan lebih sederhana dan mengena untuk mereka yang ingin mengenal hatinya, dengan harapan Allah menghidupkan hati kita, karena hati yang hidup adalah kekayaan yang sangat berharga, dan sebaliknya hati yang mati adalah kerugian yang tiada taranya dan akan menyusahkan si empunya hati di dunia dan di akhirat.
Seorang syaikh menyatakan dalam suatu ceramahnya, "Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad saw untuk menghidupkan hati manusia, sebagaimana menurunkan hujan untuk menghidupkan dan menyirami bumi. Allah menurunkan hujan atau gerimis atau hujan lebat dan lain-lain agar bumi ini tidak kering, tetapi hidup dan subur serta bermanfaat. Demikian juga Allah menurunkan Alquran di dalamnya ada ayat-ayat muhkamat, ayat-ayat mutasyabihat, kisah tauladan, pengajaran, dan lain-lain untuk menyuburkan hati manusia di muka bumi ini. Alquran sebagai petunjuk jalan hidup, sebagai obat, sebagai rahmat, sebagai penyembuh, sebagai pengingat, sebagai senjata, untuk manusia ini.
Alquran untuk menghidupkan hati manusia dan juga sebagai petunjuk untuk mereka yang mau bertaqwa kepada Allah, "Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (2: 2). Alquran sebagai pengobat hati manusia (10: 57). "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." Alquran sebagai obat dan rahmat bagi manusia yang mau beriman dan mengamalkannya (17: 82): artinya, "Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian." Bagaimana kita menempatkan hati kita dalam segala kondisi dan keadaan dan selalu dalam bimbingan quran, baik dalam kedaan senang dan bahagia, susah dan sengsara, bahaya, atau dalam keadaan apa saja yang mungkin ada pada kita.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dalam berbagai kitab yang ada, kita akan menjumpai tulisan-tulisan para ulama yang begitu dalam membahas tentang hati, kitab yang telah disebutkan di atas, juga kitab Minhajul Qoasidiin Ibnu Qudamah, mengungkapkan bahwa hati ibarat benteng kekuatan suatu pasukan yang sedang bertempur. Dalam benteng tersimpan kekuatan persenjataan dan ada pintu-pintunya. Panca indra adalah pintu yang selalu menjadi sasaran musuh, dan zikrullah merupakan tentara yang akan menjaga dan melawan itu semua.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Sesungguhnya kesibukan hati tidak kalah sibuknya dengan raga kita. Setiap amal yang kita lakukan pasti telah didahului oleh suatu niat-nitat: apakah niatnya itu baik atau tidak baik, ikhlas atau tidak ikhlas dan seterusnya.
Rasulullah saw telah bersabda yang artinya, "Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya, tidak lain dan tidak bukan itulah yang dikatakan hati.." (HR Bukhari Muslim).
Dalam Riyadush-Shalihin,kalau kita perhatiakan, pada bab-bab awal terdapat kajian keutamaan-keutamaan amalan-amalan manusia: bab Ikhlash, Taubat, Shabr, ash-Shidqu, al-Muraqabah, at-Taqwa, al-Yaqin wa Tawakkal, al-Istiqomah, dll, itu semua tidak lepas dari amalan hati. Seperti ikhlash dalam arti luas.
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5).
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dari sini kita mendapat gambaran bahwasanya hati kita lebih sibuk daripada raga kita. Meskipun seseorang sedang diam, namun hatinya dapat berbuat apa saja yang dikehendakinya; jasadnya mungkin sedang duduk termenung, namun hatinya bisa jadi sedang dendam membara, atau hasad dengan seseorang atau bergelora dengan cinta atau apa saja. Maka, seandainya amalan hati yang berkaitan dengan raga ini Allah nilai sebagai amalan, maka hampir tidak ada manusia yang selamat. Kekawatiran ini sebagai mana digambarkan dalam tafsir ibnu katsir dalam turunya ayat:
"Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 284).
Akan tetapi, Allah Maha Bijaksana, niat jahat jika tak dikerjakan maka hal itu tidak dianggap kejahatan.
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah memberi keampunan dan tidak menghitung segala pembicaraan hati umatku selagi mereka tidak memperkatakannya atau melakukannya."
Dari sini jelas bahwa apa yang disibukkan hati kadang tidak dinilai atau tidak dihitung apabila hal itu suatu kejahatan yang tidak dilaksanakan. Allah Maha Agung, Maha Adil, dan Maha Bijaksana terhadap hamba-Nya. Dan sebaliknya, apa yang diniatkan hati suatu kebaikan akan dinilai Allah. Betapa indah dan agungnya ajaran Islam, kalau kita mau perhatikan dan mau mendalaminya serta merenungkannnya, sebagaimana gambaran dalam suatu hadis Nabi saw diiriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saw bersabda, "Allah SWT berfirman kepada Malaikat pencatat amalan: Apabila hamba-Ku berniat ingin melakukan kejahatan, maka jangan lagi kamu menulisnya sebagai amalan kejahatan. Apabila dia melakukannya barulah kamu menulisnya sebagai satu amalan kejahatan. Jika hamba-Ku berniat ingin melakukan kebaikan, tetapi dia tidak lagi melakukannya, maka catatkanlah sebagai satu amalan kebaikan. Jika dia melakukannya maka catatkanlah kebaikan itu sepuluh kali lipat."